Banyak orang, tertarik pada khodam macan. Tetapi seringkali banyak yang lupa, bahwa bagi masyarakat Jawa, macan tidak sekedar ada dalam wujud khodam saja.

Harimau Jawa sesungguhnya memiliki nilai sakral. Pernah ada masanya, ketika harimau atau macan, merupakan sosok yang dihormati sebagai raja hutan. Sehingga kemudian tidak jarang, macan Jawa ini disebut sebagai Mbah Loreng.

Meskipun tentu, seperti yang sama-sama kita tahu, Harimau Jawa sudah dinyatakan punah sejak tahun 80an, dan kepunahannya pun tidak lepas dari peran dan kesalahan kita sebagai manusia.

Dulu, pernah ada masanya ketika harimau Jawa tidak sekedar dianggap sebagai ancaman, tidak sekedar dianggap sebagai binatang buas. Justru sebaliknya, harimau Jawa dianggap berperan dalam menjaga ketenteraman desa. Bahkan dipercaya berkomunikasi lewat isyarat-isyarat tertentu, yang hanya dapat dimengerti oleh orang-orang tertentu pula.


Baca Juga :


Masyarakat Jawa ketika itu percaya, bahwa kawanan harimau yang menghuni hutan belantara, sesungguhnya memiliki pemimpin gaib. Pemimpin inilah yang kemudian ‘mbahu reksa’ atau melindungi serta memimpin kawanan harimau tadi di alam liar.

Dulu, diceritakan bahwa jika warga berniat mbabat alas, atau membuka hutan, maka sesepuh daerah tersebut harus terlebih dulu membakar kemenyan dan membaca doa. Kemudian dipercaya akan muncullah sang harimau pemimpin, dimana kemudian sesepuh tersebut meminta ijin untuk membuka lahan pemukiman.

Secara tradisional, Anda mungkin pernah mendengar bahwa harimau sesungguhnya cenderung menghindari manusia. Meskipun interaksi antara manusia dan harimau, memang sudah ada sejak jaman dulu kala.

Ada juga cerita rakyat masyarakat Jawa, yang menuturkan bahwa kucing rumahan, sesungguhnya merupakan keturunan harimau hutan. Suatu ketika si macan ini masuk kampung, mencicipi terasi di rumah penduduk, kemudian menetap di pemukiman karena tergoda oleh rasanya yang nikmat.

Maka dari itu, bila ada harimau yang ketahuan masuk kampung, orang tua jaman dulu akan menganggap bahwa harimau ini datang untuk menjenguk cucunya, yang telah memilih untuk tinggal bersama manusia.

Harimau tidak pernah dengan sengaja melukai manusia. Ataupun memangsa ternak. Karena harimau di hutan pun punya rejekinya sendiri. Dan ketika itu dipercaya, bahwa jika seekor harimau sampai memangsa manusia, maka rejekinya akan hilang selama 40 hari.

Leluhur kita juga mengisahkan harimau Jawa sebagai makhluk yang kenal balas budi. Jadi apabila ada orang yang menemukan anak harimau, kemudian memulangkannya dengan kalung bawang merah dan bawang putih, maka sang induk akan datang kepada orang tersebut. Dengan meletakkan daging rusa di depan pintu, sebagai ucapan terima kasih.

Jadi secara umum, pada masanya harimau jawa dianggap memiliki kebijaksanaannya sendiri. Tidak mau mengganggu manusia, memangsa ternak pun tidak. Mereka hidup berkawan di hutan, dengan aturan yang berlaku untuk sesama kaumnya.

Tetapi memang sayang beribu sayang, keberadaan harimau jawa kini tinggal kenangan. Dinyatakan punah karena perburuan dan pembukaan lahan. Inilah, yang semestinya membuka mata kita. Bahwa seringkali ada hal-hal berharga yang kita abaikan begitu saja, demi kepentingan kita sendiri.

Cerita Tentang Mbah Loreng, Si Macan Jawa Yang Bijaksana