Prabu Siliwangi pernah memberikan empat pilihan kepada rakyatnya. Empat pilihan tersebut diberikan tidak lama sebelum Prabu Siliwangi memutuskan untuk moksa (menghilang dari alam nyata).

Pilihan pertama adalah ikut moksa bersama beliau. Kedua, mengabdi kepada negara yang kala itu tengah berjaya, yakni Cirebon, Sumedang Larang dan Banten Lama. Ketiga, tetap berada di tempat semula sekalipun keadaan akan berubah, tidak seperti sedia kala. Pilihan keempat adalah golongan yang tidak memilih ketiga pilihan sebelumnya. Mereka inilah golongan pengembara yang kemudian selalu berpindah-pindah tempat.

Orang-orang yang memutuskan untuk mengambil pilihan ketiga adalah mereka yang kemudian tetap menetap. Membuka kampung dan persawahan baru sekaligus memelihara situs peninggalan Prabu Siliwangi. Seiring dengan berjalannya waktu, makam orang-orang yang dianggap berjasa ini pun dikeramatkan oleh warga sebagai bentuk penghormatan. Termasuk dalam makam-makam keramat di area Pesanggrahan Prabu Siliwangi antara lain:

1.  Makam Mbah Buyut Arjuna

Menurut kepercayaan setempat, makam ini sesungguhnya adalah petilasan bekas pertapaan Arjuna. Babad Pajajaran versi Cirebon memang menuliskan Prabu Siliwangi sebagai keturunan Pandawa. Sehingga wajar bila beliau mendirikan pesanggrahan dekat dengan leluhurnya.

2.  Makam Mbah Gora dan Mbah Nambang Kemuning

Pada masanya, Mbah Gora adalah seorang tokoh Pajajaran yang ikut menyebarkan agama Islam. Beliau sejaman dengan Mbah Kuwu Sangkan Cirebon Girang. Termasuk dalam sahabat seperjuangan beliau adalah Mbah Buyut Bungsu, Mbah Buyut Tajug dan Mbah Buyut Saca. Mbah Gora dimakamkan di tengah-tengah pemakaman umum Pajajar dan diberi cungkup yang cukup untuk dimasuki beberapa orang peziarah.

Makam Mbah Nambang Kemuning berada satu komplek dengan Makam Mbah Gora, tetapi tidak memakai cungkup. Bentuk makamnya seperti makam kebanyakan orang, hanya saja ukurannya lebih besar.

Ada lagi makam yang terletak tidak jauh dari makam Mbah Gora, yakni Makam Mbah Buyut Bungsu. Tepatnya di sebelah utara Makam Mbah Gora. Mbah Buyut Bungsu merupakan sosok yang berperan dalam menentukan batas wilayah desa Pajajar. Makam beliau menguarkan aroma mistik yang sangat kental karena cungkupnya berada di tengah-tengah rimbunan pohon tua.

3.  Makam Mbah Buyut Tajug

Mbah Buyut Tajug adalah kuwu ke dua di Pajajar, sedangkan kuwu yang pertama adalah Mbah Buyut Saca. Letak makam Mbah Buyut Tajug agak terpelosok karena berada di ujung desa dan dikelilingi area persawahan.

4.  Makam Mbah Buyut Saca

Mbah Buyut Saca adalah kuwu pertama di Pajajar. Makamnya terletak antara makam Mbah Buyut Bungsu dan Mbah Buyut Tajug. Tepatnya berada di atas bukit kecil yang dimanfaatkan penduduk sekitar sebagai tempat pembibitan. Bangunan makamnya terbilang cukup sederhana untuk ukuran tokoh yang berjasa besar bagi desa Pajajar.

5.  Makam Mbah Buyut Masdar

Masyarakat setempat meyakini bahwa Mbah Buyut Masdar berasal dari Kerajaan Kuningan yang datang dengan tujuan untuk mengajak tanding para jago Pajajar. Namun keramahan dan kebijaksanaan orang-orang Pajajar justru membuat Mbah Masdar tertarik untuk menetap di sana sampai akhir hayatnya. Beliau kemudian dimakamkan di hutan Plalangon. Lokasi makamnya sangat mistis meski bangunan makamnya sendiri tidak bercungkup, dengan dikelilingi batu-batu tua yang tertutup rindangnya pepohonan berumur puluhan bahkan ratusan tahun.

Letak makam Mbah Buyut Masdar sejajar dengan bukit tempat Mbah Bungsu dimakamkan, jaraknya hanya ratusan meter saja.

6.  Makam Mbah Buyut Pokek

Mbah Buyut Pokek merupakan nama sebutan untuk Mbah Buyut Haji Wanasari. Beliau sejatinya adalah seorang pendatang dari jazirah Arab yang mengikuti perjuangan Mbah Gora dalam menyebarkan agama Islam di daerah Pajajar. Bangunan cungkup makamnya sudah permanen dan memadai, terletak di atas sebuah bukit kecil dengan pohon yang rindang dan lebat.

Selain makam-makam tersebut, masih ada lagi makam yang dikeramatkan dan sering diziarahi, yaitu Makam Mbah Angga Laksana dan Mbah Sulaeman. Keduanya bukan berasal dari jaman yang sama dengan makam-makam keramat diatas. Mbah Sulaeman dan Mbah Angga Laksana adalah tokoh masyarakat yang hidup di jaman kolonial dan ikut berjuang melawan Belanda.

Artikel Paling Dicari: