Selain Prabu Siliwangi, masyarakat Sunda juga sangat akrab dengan tokoh Raden Kian Santang. Sang putra raja Pakuan Padjajaran ini banyak dikisahkan dalam karya sastra kuno berbahasa Sunda dan beberapa prasasti batu. Sejarah Prabu Siliwangi dan Kian Santang banyak bersinggungan karena keduanya adalah ayah dan anak. Namun, sang anak menawarkan kisah yang berbeda.

Kisah Raden Kian Santang

Raden Kian Santang adalah seorang pangeran yang gagah dan sakti. Selama hidupnya, ia telah melakukan banyak hal dan apa yang dilakukannya tersebut dirangkum menjadi cerita menarik yang sedikit bercampur mitos serta fakta.

Silsilah Kian Santang

Prabu Siliwangi memiliki beberapa istri, salah satunya adalah Nyi Subang Larang. Dari pernikahan ini, sang raja memiliki tiga anak, yaitu Walangsungsang, Rara Santang, dan Kian Santang. Putra yang terakhir ini juga dikenal dengan nama Keyang Santang dan Raden Sangara.

Kian Santang kecil dibesarkan di istana megah milik Prabu Siliwangi. Selain itu, ia juga mengenal dua ajaran agama, yaitu ajaran agama Hindu dari ayahnya dan ajaran agama Islam dari ibunya. Nantinya, dalam sebuah legenda Sunda diceritakan bahwa Raden Kian Santang memadu cinta dengan Dewi Rengganis

Mengadu Kesaktian

Seperti yang telah disebutkan tadi, Raden Kian Santang adalah seorang pria gagah dan sakti. Hingga dewasa, ia tidak menemukan orang lain yang dapat menandingi kesaktiannya. Sehingga, ia meminta tolong ayahnya untuk menemukan orang yang dapat diajak mengadu kesaktiannya.

Sang ayah, Prabu Siliwangi pun menuruti permintaan putranya. Ia lalu mengumpulkan semua ahli nujum terbaik yang ada di Kerajaan Padjajaran untuk mencari lawan tanding bagi putranya. Namun, mereka semua tidak berhasil menemukan orang sakti. Tak lama kemudian seorang pria tua memberi tahu Kian Santang bahwa orang yang tak kalah sakti darinya adalah Sayyidina Ali.

Perlu diketahui bahwa Sayyidina Ali telah wafat pada waktu itu. Sang pria tua tersebut juga memberitahu dua syarat yang harus dipenuhi Kian Santang. Syarat yang pertama adalah bahwa Kian Santang harus melakukan mujasmedi dan yang kedua adalah ia harus mengganti namanya menjadi Galantrang Setra.

Setelah syarat terpenuhi, ia baru bisa pergi ke Mekkah untuk menemui Sayyidina Ali. Di kota suci tersebut, dengan seizin Allah, Kian Santang bertemu dengan Sayyidina Ali. Ia menerima tantangannya yang sangat sulit hingga membuat sang putra raja berdarah-darah. Kemudian, ia kembali ke Sunda dan suatu ketika kembali lagi ke Mekkah untuk mendalami agama Islam.

Polemik dengan Ayahnya, Prabu Siliwangi

Sepulang dari Mekkah, Raden Kian Santang semakin memahami agama Islam dan ingin menyebarkannya ke wilayah yang lebih luas. Ia pun mengembara ke tanah Sunda dan bagian barat pulau Jawa untuk menyebarkan ajaran agama ini.

Tak lupa pula, ia memiliki keinginan untuk mengislamkan ayahnya yang saat itu masih memeluk agama Hindu. Akan tetapi, Prabu Siliwangi ternyata tidak mudah dibujuk. Ia bersikeras untuk tetap memeluk agama yang dianutnya. Hal ini mengakibatkan polemik antara ayah dan anak akhirnya meluas menjadi pertempuran kerajaan antara pendukung keduanya.

Untuk menghindarinya, Prabu Siliwangi memilih untuk mengasingkan diri di salah satu hutan yang ada di tanah Sunda. Dalam pengasingannya ini, akhirnya ia memilih untuk melakukan moksa dan berubah menjadi macan putih.

Dari kisah Raden Kian Santang di atas, para pembaca pasti akan merasa sedikit bingung dengan latar waktu berdirinya Kerajaan Padjajaran dan masa hidup Sayyidina Ali. Namun, karena kisah tersebut telah bercampur dengan mitos, maka Anda tidak perlu terlalu pusing memikirkannya.

Artikel Paling Dicari:

Kisah Menarik Dari Raden Kian Santang